PERNIKAHAN DINI

 

Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017 mengemukakan angka pernikahan anak berada di atas 10% dan itu merata di seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Sedangkan, angka perkawinan anak sebesar 25% dan terdapat di 23 provinsi dari jumlah total 34 provinsi yang ada di Indonesia saat ini. dapat di tarik kesimpulan bahwa dari 100% wilayah yang ada di Indonesia, 67% wilayahnya darurat akan praktik perkawinan anak.

Terdapat beberapa alasan yang menjadi faktor terjadinya pernikahan dini. Rata-rata dikarenakan alanan perekonomian dan keinginan keluar dari jerat kemiskinan. Selain itu juga masih banyak lagi alasan terjadinya pernikahan diri, antara lainĀ  karena orang tuanya yang ingin cepat melepaskan tanggung jawabnya sebagai orang tua, karena orang tuanya ingin menghindari fitnah dari sang anak yang kemungkinan akan terjadi, pendidikan yang rendah yang tidak mengetahui dampak dari pernikahan dini, tradisi yang ada di suatu daerah yang menuntut si anak untuk menikah dini, dan juga pergaulan bebas yang mengindikasi terjadinya seks bebas. Menurut BPS ada tiga provinsi yang memiliki angka presentase tinggi pernikahan anak, yaitu Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan, dan Kepulauan Bangka Belitung. Jika dilihat dari pengertiannya menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 berisi tentang Perlindungan Anak Pasal 1 (ayat 1), anak merupakan seseorang yang belum menginjak usia 18 tahun, dan juga anak yang masih dalam kandungan. Ada beberapa dampak negatif dari pernikahan dini, baik dari pihak laki-laki, perempuan, maupun bagi masyarakt sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *